Senin, 22 Oktober 2012

Ketika Nyawa Tak Lagi Berarti

Aku membaca sebuah berita di sebuah situs terpercaya. Bom meledak di Poso. Dua orang Brigadir dan satu orang satpam terluka. Menurut berita, peledakan ini adalah bentuk pengalihan perhatian sebuah kelompok. Peledakan bom sendiri bukan kejadian pertama di Poso. Juga bukan pertama kalinya di bumi Indonesia. Sekelompok organisasi merancang pengeboman. Melukai orang-orang. Dan beberapa kasus pengeboman ini menewaskan banyak orang. Demi kepentingan sekelompok orang.

Beberapa waktu lalu, seorang murid sekolah dibunuh. Dia tidak melakukan kesalahan apapun. Dia dan teman-temannya hanya makan di wilayah kekuasaan sekolah lain. Pemilik wilayah tersebut merasa terjajah. Tawuran pun terjadi. Dia pun terbunuh karena dia gagal melarikan diri. Demi sebuah teritori.

Pembunuhan juga terjadi pada makhluk tak berdaya. Janin namanya. Tidak ada data yang akurat menerangkan tingginya tingkat aborsi. Hanya diperkirakan ada 2,5 juta orang Indonesia yang pernah melakukan aborsi. Setengah pelakunya adalah pelajar. Demi sebuah nama baik.

Selain kisah di atas, banyak lagi kasus yang berhubungan dengan nyawa yang tidak berarti. Anak membunuh orang tua karena tidak diberi uang. Suami membacok istri karena amarah. Iri dengan kekayaan tetangga, tetangga pun dibunuh. Kita bisa melihat di berita setiap harinya. Pernahkah terpikirkan oleh kita semua, semua yang kita inginkan bisa tercapai tanpa menghilangkan nyawa?

Nama baik, teritori, kekayaan, tujuan dan masa depan yang indah.

Kalau niat kita tulus, baik dan benar di mata Tuhan, tidakkah Tuhan akan membela kita? Tidakkah Dia akan menyertai kita dalam setiap pekerjaan tangan kita? Tidakkah Tuhan mengetahui kerinduanmu?

Teman-temanku, ingatlah selalu Tuhan yang menciptakan semua manusia. Kita, orang yang kita suka ataupun benci adalah ciptaan Tuhan. Dia yang membentuk kita semua di rahim seorang ibu. Dan Tuhan mengenal luar dalamnya kita. Tak satupun dari kita, berhak mengambil nyawa seseorang. Lalu izinkan Tuhan berbicara mengenai hati kita, untuk apa Dia menciptakan kita semua.
Mazmur 139
Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.
Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku. Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya. Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang. Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.
Sekiranya Engkau mematikan orang fasik, ya Allah, sehingga menjauh dari padaku penumpah-penumpah darah, yang berkata-kata dusta terhadap Engkau, dan melawan Engkau dengan sia-sia. Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau? Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku. Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!

Kamis, 04 Oktober 2012

Sebuah Doa


Teman-teman,

Aku yakin di setiap hati kita pasti ada suatu kerinduan. Ada yang rindu memiliki pekerjaan baru. Ada yang mengharapkan klien-klien baru untuk perusahaan. Ada pula yang menanti-nantikan buah hati. Apapun kerinduan kalian, sama, aku juga memiliki kerinduan.

Aku merindukan papa mamaku bisa melihat kebaikan dan kebesaran Tuhan. Aku menginginkan karier di kantorku berkembang. Aku ingin menikah dan memiliki anak-anak. Aku mau tinggal di rumah petak dengan halaman yang luas. Aku mengharapkan sebuah mobil pribadi. Dan masih, masih banyak lagi.

Dan sama seperti kalian teman-teman, aku juga mengalami "tidak semua orang mengerti hati kita". Mereka mengira kita tidak berbuat apa-apa untuk mendapat hasilnya. Mereka hanya berbicara. Sekalipun mereka memberikan solusi, itu sesuatu yang bertentangan dengan kepercayaan dan hati nurani kita.

Mereka yang sudah mendapatkan semuanya itu, tidak menyadari betapa sakit dan melelahkannya sebuah penantian.

Teman-teman, sebagai sesama yang menantikan kerinduan menjadi nyata. Mari kita saling mendoakan satu sama lain.

Tuhanku berkata
Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. - Yesaya 40:31

Bagi kita yang sudah khawatir apakah kerinduan kita pasti, Tuhan menulis
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. - Filipi 4:6-7

Jadi teman-teman, ayo kita tetap berharap supaya kerinduan itu menjadi nyata.

Serupa Tuhan Yesus


Kita manusia kebanyakan memilih yang sudah “jadi”. Misalkan, saat penerimaan siswa baru, sekolah bergengsi hanya mau menerima yang pintar. Saat interview di kantor, bos maunya calon karyawan yang lulusan universitas luar negeri, memiliki banyak skill, santun, bekerja keras dan sebagainya. Bahkan mengenai pasangan hidup, kita maunya orangnya sudah cinta Tuhan, pemimpin di keluarga, mapan dan berintegritas.

Aku tidak berkata memilih yang sudah “jadi” itu salah. Karena waktu kita tidak banyak. Bisnis berjalan terus. Sekolah mungkin ingin mempertahankan reputasinya. Dan aku tidak yakin ada yang tahan dengan pasangan hidup yang boros, malas dan suka bohong lagi. Proses membentuk karakter dan skill seseorang itu membutuhkan kasih, waktu, uang dan kesabaran. Kita tidak pernah tahu jangka waktunya. 5? 10? Atau 20 tahun? Belum lagi dia jatuh bangun – Yang dulunya malas, sudah disiplin, eh balik lagi malas karena berbagai persoalan dalam hidupnya.

Satu-satunya pribadi yang bersedia memilih orang yang belum "jadi" dan kuat menanggung proses pembentukan karakter dan skill ini adalah Tuhan. Dan Dia berani memegang orang yang sulit. Salah satu orang tersebut adalah aku.

Dulunya, aku adalah orang yang penuntut. Aku mau segala sesuatu itu sempurna. Bahkan kadang aku melukai orang lain. Timbul rasa bersalah, tetapi akhirnya cuek ketika orang tersebut berbicara padaku. Kalau mereka tidak mau ngomong lagi, cuekin saja. Selain penuntut, aku juga pemalu dan tidak banyak berbicara. Aku gampang berpikiran negatif. Kalau ada orang berbicara kasar atau asal kepadaku, aku bisa berpikir jahat untuk balas dendam. Aku hanya mau membantu orang yang tahu berterima kasih. Istilahnya kekanak-kanakan. Nilai-nilaiku juga biasa saja. Orang tuaku sudah angkat tangan. Aku ditegur dan dimarahin selama 20 tahun, tetap tidak berubah. Dan aku juga ingin berubah. Sekalipun keinginan itu kuat, aku tak sanggup berubah. Sangat frustasi.

Di tengah frustasi itulah, Tuhan memanggil aku.
Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Karena itu seperti ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan. " – 1 Korintus 1:27-31
PanggilanNya tidak serta merta mengubah aku. Pertama-tama, dia memberikan aku hati yang baru. Hati yang percaya dan mengasihi Tuhan.

Kamu akan Kuberikan hati yang baru , dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. – Yehezkiel 36:26

Dosa-dosaku diampuni. Aku pun mengangkat Dia menjadi Rajaku. Dan dimulai dari hari itu, aku bisa berubah. Aku mulai berpikir positif. Aku bisa memaafkan dan meminta maaf. Orang tuaku bingung melihat aku minta maaf. Aku mulai berani berbicara dan menyatakan pikiranku dalam diskusi. Sisi perfeksionisku juga dikikis Tuhan. Dia mengajarkan aku untuk melihat kebutuhan orang. Mendoakan orang lain. Mendukung dan menguatkan satu sama lain. Belum sempurna, tetapi lagi dibentuk menjadi serupa dengan Dia.

Tuhan juga mempercayakanku dengan banyak hal. Orang-orang dan pekerjaan baru tidak pernah kupegang sebelumnya. Semua hal yang selama ini kuhindari, dipercayakan ke aku. Menakutkan. Tetapi Dia juga memberikan penyediaan yang baru; kasih yang melimpah. Berkat yang selalu ada sehingga aku tidak pernah kekurangan. Intinya, Tuhan membentuk aku. Untuk percaya dan bersandar padaNya, atau aku mengandalkan kemampuanku. Impianku untuk menulis pun mulai terlihat ada harapan.

Sepintar-pintarnya tupai melompat, pasti jatuh juga. Yep, aku pernah gagal. Berkali-kali malah. Cara berbicaraku membuat orang lain terluka. Aku dikoreksi berkali-kali supaya skill-ku berkembang. Dan aku bahkan pernah kecewa dengan Tuhan. Karena janji-janjiNya atas hidupku belum kelihatan. Tetapi Tuhan itu maha tahu kelemahan dan keinginan hatiku. Dia tetap mau membentuk aku, padahal dari sudut pandangku, aku telah mengecewakanNya. Aku menjauhiNya di setiap kesempatan, Alkitab pun tak kubaca. Tetapi Tuhan tidak pernah putus asa.

Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu. Aku akan membangun engkau kembali, sehingga engkau dibangun, hai anak dara Israel! Engkau akan menghiasi dirimu kembali dengan rebana dan akan tampil dalam tari-tarian orang yang bersukaria. Enkau akan membuat kebun anggur kembali di gunung-gunung Samaria; ya, orang-orang yang membuatnya akan memetik hasilnya pula. Sungguh, akan datang harinya bahwa para penjaga akan berseru di gunung Efraim: Ayo, marilah kita naik ke Sion, kepada TUHAN, Allah kita! – Yeremia 31:3-6 

Bukankah Tuhan itu luar biasa? Aku tidak pernah menemui pribadi sesabar, sebaik, setia dan semurah hati Dia. KarakterNya yang membuatku bisa bertahan dalam proses pembentukan ini. Aku juga percaya akan banyak hal baik yang juga menanti aku di dalam proses ini.

Jadi, mau ikutan diproses Tuhan dan menjadi manusia yang serupa Dia?

Jumat, 04 November 2011

Lelucon yang 'SANGAT' Lucu

Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu mendengar 'Tubuhmu dibelek dengan menggunakan jurus kungfu'? 

Lucu? Mungkin. Lagipula itu dikatakan oleh temanku sambil bercanda dan memperagakan gaya Kungfu Panda. aku biasanya tertawa oleh lelucon-lelucon sadis seperti itu. Tetapi detik ketika temanku bercanda seperti itu, aku teringat sebuah foto di tahun 98. 

Seorang wanita yang tubuhnya ditulisin yang tidak benar, ditelanjangi, dan diperkosa oleh penjarah-penjarah. Aku melihat foto itu 13 tahun yang lalu, dan aku tidak bisa melupakan korban di foto itu. Terlalu tragis untuk kulupakan.

Aku tidak mengenal wanita itu. Tetapi aku bisa bayangkan, perasaan dia di bulan naas itu. Perasaan menjelang kematiannya. Orang banyak mengelilingi rumahnya. Tidak ada niat baik di hati mereka. Bukan hanya harta yang mereka minta. Mereka meminta nyawa. Wanita itu dicengkram rasa ngeri. Penyiksaan dan kematian sudah muncul di depan matanya. Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Yang lebih menyedihkan, kisah wanita itu bukan salah satu film Hollywood atau film porno yang dijual di Glodok. Tetapi kisah nyata yang terjadi di Indonesia. Dia tidak seorang diri. Banyak wanita-wanita yang menjadi korban-korban kerusuhan 98. Ada yang mati seperti wanita ini. Ada juga yang trauma seumur hidupnya.

Bayangan itu menyadarkan aku betapa buruknya aku ketika menertawakan lelucon seperti itu. 
Pada meeting hari itu juga, aku disadarkan aku harus memikirkan lelucon-lelucon yang kudengar ataupun kulontarkan. Lelucon seperti apa yang layak kutertawakan?

Mungkin contoh lelucon ini terlalu ekstrim. Aku akan menyebutkan beberapa contoh lelucon yang 'kurang ekstrim'.

Lelucon mengenai kondisi fisik seseorang? Lelucon menipu seseorang? Lelucon untuk selingkuh? Lelucon mengenai seks? Lelucon mengenai keadaan seseorang dan keluarganya?

Kalau dilihat dari contoh lelucon-lelucon itu, ntah benar atau tidak, selalu mengarah ke orang lain. Bukan diri sendiri. Lelucon itu lebih seru sepertinya kalau diarahkan ke orang lain. Coba aku sampaikan lelucon tersebut ke korban yang mengalami sakitnya. Atau ternyata ada di keluargaku yang menjadi korban nyata dari gambaran lelucon itu. Aku yakin aku tidak akan tertawa. Yang ada malah rasa sakit, keluargaku diketawain.

Aku jadi ingat pepatah ini, "Sepintar-pintar tupai melompat, pasti akan jatuh juga." Mungkin saat ini, aku belum menceritakan lelucon yang 'sangat' lucu ke orang yang salah. Tetapi aku akan menjaga diriku untuk tidak melanjutkan kebiasaan-kebiasaan yang salah.










    

Kamis, 04 Agustus 2011

Aku adalah MilikMu

“Lari! Lari yang cepat!” teriak Darla pada diri sendiri.
Dia mempercepat langkah kakinya. Berlari di dalam kegelapan.  Jantungnya memompa darahnya dengan cepat. Kedua pipinya tampak kemerahan. Keringat mengalir dari tubuhnya. Dia telah berlari dari tadi. 30 menit? 1 jam? 5 jam? Dia tidak tahu. Dia hanya tahu ada yang mengejarnya. Apa yang mengejarnya, dia tidak tahu. Darla tidak pernah menoleh ke belakang untuk melihat. Instingnya memintanya untuk berlari secepat mungkin.  Dan Darla mengikuti instingnya. 
Dia berlari melewati jalan raya, lorong-lorong dan jembatan-jembatan. Dia melihat banyak bangunan-bangunan yang tampak seperti gedung perkantoran, apartemen dan rumah-rumah. Tetapi tidak ada pintu dan daun jendela pada bangunan-bangunan itu. Darla sempat berpikir, semua bangunan tampak familiar. Tetapi pikiran itu dengan segera dilupakannya, karena dia harus konsentrasi berlari. Lari dengan cepat.
Setiap kali Darla melewati sebuah persimpangan, dia akan memilih jalan secara acak. Dia toh tidak tahu mau kemana. Disini tidak ada papan petunjuk jalan. Hanya 2 harapannya. Dia bisa keluar dari tempat yang aneh ini dan pulang ke rumah.
‘Rumah?’ Entah kenapa kata ini membuat hatinya sakit. Sambil berlari terengah-engah, Darla teringat papa mamanya yang selalu bertengkar. Dia teringat papa yang tidak pernah kelihatan di rumah. Mama yang selalu menangisi papa. Kata-kata itu membuatnya sakit.
“Darla.” Sebuah suara memanggilnya dari belakang.
Ingatan Darla langsung buyar. “Iya, aku harus keluar dari tempat ini.” Darla pun mempercepat pergerakan kakinya.
“Darla,” panggil suara itu lagi.
“Berhentilah mengejarku.” Teriak Darla tanpa menoleh ke belakang. Air mata mengalir dari kedua belah pipinya. Darla sudah capek berlari. Dia ingin keluar.
“Aku tidak bisa.” Sahut suara itu dengan lembut.
“Kenapa?” teriak Darla dengan frustasi.
“Karena kamu milikku.” Jawab suara itu dengan tenang.
“Aku bukan milikmu. Kamu bukan siapa-siapa bagiku.”
“Kamu milikku. Aku telah membelimu.”
Darla mendengus. “Kamu kira kamu siapa? Kamu beli aku dari orang tuaku?”
“Dari majikanmu. Supaya kamu bisa mendapatkan hidup yang penuh bahagia.”
“Apaan si?”
“Penceraian papa mama. Aborsi. Narkoba.”

Darla berhenti berlari. Dia menoleh dan memelototi ke arah suara itu berasal. Tetapi dia tidak melihat apapun. Dia hanya melihat bangunan-bangunan yang tampak familiar itu.
“Jangan kamu mencampuri urusanku!” teriak Darla ke arah suara itu.
Suara itu tidak menyahut.

Darla hendak melanjutkan larinya, ketika terjadi gempa yang dahsyat. Jalan-jalan di belakangnya terbelah. Belahan itu semakin lama semakin lebar dan dalam. Tercium aroma yang sangat menyengat. Dia merasakan hawa panas yang teramat sangat. Beberapa menit kemudian, dia melihat lautan api di tengah-tengah jalan yang terbelah.
‘Jika aku terjun, apakah dia akan keluar dari labirin ini?’ pikirnya.
“Jangan Darla!” teriak suara itu.
“Berisik! Aku tidak mau berada di tempat ini terus! Mungkin di lautan itu ada jalan keluar.”
“Jika kamu terjun, kamu akan tinggal di kegelapan yang mengerikan selamanya.”
“Mengerikan? Ha? Kamu kira aku takut? Aku pernah melakukan banyak hal yang orang-orang takuti. Aku pernah berada di kandang singa. Aku pernah makan laba-laba hidup-hidup. Aku pernah melompati gerbong ke gerbong ketika kereta berjalan cepat. Aku pernah... “ bual Darla.
“Di situ neraka!” teriak suara itu. “Ayo, ikut aku! Aku akan membawamu kembali.”
“Kemana? Ke kegelapan yang tadi?” tanya Darla. Harapan untuk keluar dari tempat ini sudah mulai sirna.
“Kembali ke kehidupan.”

‘Kehidupan?' Darla teringat hal yang terakhir dia lakukan sebelum dia tiba di kegelapan ini. Dia menyayatkan dirinya sendiri. Orang tua yang siap bercerai. Pacar yang merupakan satu-satunya sumber kebahagiaan, selingkuh dengan teman baiknya. Semuanya salah dia. Orang tuanya terpaksa menikah karena mamanya hamil. Pacarnya meninggalkannya karena Darla kurang perhatian. Dia tidak mampu membuat orang lain bahagia. Dia pantas tidak kembali ke kehidupan. Dia sepertinya cocok di neraka.

“Darla.” Sahut suara itu. “Aku mengasihimu. Aku ingin memberikan hidup yang penuh kebahagiaan.”
Darla menatap ke arah suara itu berasal. Dia tidak bergeming. Dengan tatapan menantang, dia berkata, “kalau aku benar-benar milikmu. Kamu benar-benar mengasihiku. Tangkaplah aku!”
Darla melemparkan dirinya ke dalam jurang. Suara itu tidak menjawab. Darla tersenyum sinis.
‘Hidup yang bahagia? Menangkap aku saja dia tak sanggup. Pembohong!’
Darla menutup matanya. “Selamat tinggal Suara!”

Tiba-tiba dia berhenti jatuh. Sebuah kehangatan menopang tubuhnya. Kehangatan yang teramat sangat. Kehangatan yang membuat air matanya mengalir tanpa henti. Dan dia merasakan damai yang teramat sangat.
“Bukankah kukatakan, kalau kamu itu milikku? Maukah sekarang kamu mengakuinya?”
Pintu sebuah ingatan yang telah lama dikuncinya, terbuka. Dia kenal pemiliknya. Pribadi yang telah membelinya dengan nyawanya. Darahnya. Pribadi yang pernah dia baca ketika dia sekolah. Dia hidup, sehidup yang dibacanya. Dia bukan dongeng.
“Ya. Tuhan Yesus, aku milik-Mu. Kamu adalah penyelamatku dan Rajaku.”

*Terinspirasi oleh lagu Israel Houghton ‘I know who I am’*

Papa dan papa

I hated papa.

Kaku. Pemaksa. Pemarah. Aku membenci papaku. Setiap kali aku menelepon ke Medan, aku berharap mama yang angkat telepon. Kalau papa yang angkat, aku buru-buru meminta dia mengalihkan telepon ke mama. Setiap kali dia berkunjung ke Jakarta, aku usahakan tidak berduaan saja dengannya. Aku membencinya. Aku tidak suka dimarahin karena aku tidak mau melakukan apa yang dia inginkan. Dia tidak pernah mencoba mengerti aku.

Kuku (adik papa dalam bahasa Mandarin), selalu mengatakan papa sayang sama aku. Aku mengiyakan di bibir, tetapi menolak di hati dan pikiranku. Aku tidak percaya, ada rasa sayang pada pria yang diktaktor itu. Apa ada sayang, pada pria yang memaksaku mencari teman baru lalu memarahiku ketika gagal? Apa ada sayang, pada pria yang mengatai-ngatai yang buruk kepada anaknya?

Aku tidak membutuhkan kasih sayang berupa uang, barang dan baju! Aku tidak membutuhkannya! Aku mau dia melihatku sebagai anak yang dibanggakan. Aku merindukan itu melebihi segalanya. Tetapi aku gagal memenuhinya.

Suatu hari,  aku sedang berbaring di tempat tidur. Aku sedang berbicara kepada Papa Surgawi mengenai papa. Slide mengenai papa muncul di pikiranku. Beberapa slide di awalnya itu buruk. Kenangan buruk. Amarahku naik. Hatiku sakit. Aku meneriakkan ke Tuhan apa yang kubenci dari papaku.

Namun semakin slide-slide berjalan,  kenangan-kenangan indah ditampilkan.

Papa yang menggendong aku.
Papa yang mengeringkan rambutku dengan hair dryer.
Papa yang mengantar jemput aku ke kursus.
Papa yang merapikan poni yang berantakan.
Papa yang membelikan kalkulator karena aku suka memainkannya.
Papa yang menggelitikku dengan kumisnya.
Papa yang ... Terlalu banyak kenangan indah yang tertutupi sakit hati.

Air mata berenang melewati mata dan pipiku dengan deras. Paru-paru dan tenggorokanku mengeluarkan isakan. Semua nanah melompat keluar dari hatiku karena syok. Setelah keturunan terakhir nanah keluar, hatiku damai. Hatiku dipulihkan. Aku bisa mencintai papa kembali.

Terakhir kali aku bertemu papa, papa sedang tidur sambil mendengkur di tempat tidur. Aku menyapanya. Dan dia tidak menjawab. Aku lalu melompat ke arahnya. Dia terbangun, memeluk dan mengelus kepalaku. Aku menyukai elusan papaku.

Papa marah karena ingin aku mendapatkan yang terbaik.
Papa marah karena ingin menjagaku.
Papa mengata-ngataiku supaya aku berubah.
Caranya mungkin salah, tetapi sekarang aku bisa membaca hatinya. Dan hatiku meluap dengan cinta untuk mengasihinya yang sama-sama belum sempurna.
Terima kasih Papa Surgawi yang telah membuat semua ini terjadi. Aku tidak bisa berhenti mencintaiku Papa dan papa. Papa Surgawi telah mengirimkan aku ke papa yang luar biasa.

"Pa, aku berdoa kamu akan kenal Papa Surgawi yang dahsyat itu."

*Wish I can write it down in Mandarin*

Minggu, 27 Februari 2011

Terluka

Aku tahu aku terluka ketika:
Aku marah ketika memikirkan orang yang melukaiku
Ketika dia berbicara buruk, aku membalas dan merasakan dua kali lebih buruk dari lukaku
Aku kecewa ketika orang itu tidak kunjung meminta maaf
Aku tidak mau bertemu apalagi menatap wajahnya
Aku ingin menampar wajahnya yang sombong

Siapa yang sedikit diampuni, sedikit pula dia berbuat kasih - Lukas 7:47

Aku tahu aku diampuni, tetapi seberapa jauh?
Tubuh Tuhan dicambuk, diludahi, dipaku dan nyawaNya dicabut demi dosa-dosaku
Dosa besar atau kecil? Dosa tidak ada ukurannya. Dosa ya dosa. Dosa karena berbohong. Dosa karena melukai orang dengan sengaja. Dosa karena bergosip. Dosa karena melawan orang tua. Dosa karena membenci. Dosa karena mengutuk. Dosa karena tidak mau mengampuni. Dosa karena tidak sopan dan kasar. Dosa karena menghina. Dosa karena menfitnah. Dosa karena mencuri. Dosa karena berzinah.

Kasih, Kekuatan dan Berkat yang melimpah diberikan
Diangkat sebagai anak Allah sehingga kita bisa berhubungan dengan Sang Pencipta. Diberikan otoritas untuk melawan musuh-musuh (roh jahat) yang telah membuatku jatuh terpuruk. Disiram dengan kasih karunia sehingga memampukanku untuk melakukan kehendakNya. Tidak dicabutnya nyawaku ketika aku melakukan kesalahan. Tuhan setia menungguku ketika aku kabur,

Aku menatap wajah orang yang melukaiku. Aku juga pernah di posisi dia. Tidak pantas diampuni, tidak pantas dikasihi, apalagi dihormati. Aku menatap ke arahNya.

Aku mengampuni dan memberkati orang yang melukaiku, seperti yang Tuhan lakukan.