Senin, 14 Februari 2011

Kamu Siap Tidak?

"Jul, Aku sudah menyiapkan pasangan hidup yang luar biasa bagimu."
"Hm.. Tuhan, aku tidak siap menerimanya. Lihat saja kelemahanku begitu banyak. Aku egois, kalau aku melukai dia gimana? Aku sensitif. Aku belum bisa masak. Keuanganku berantakan .... "
"Kapan kamu siap? Kapan "siap" itu adalah siap?"

Kapan? Itu pertanyaan yang sulit kujawab.
Aku punya banyak alasan untuk tidak siap. Aku tidak siap terluka dan melukai lagi. 2 kali hubungan yang belum saatnya, membuatku trauma. Di sini, aku tidak menyalahkan mereka, karena kesalahan sebuah hubungan tidak di satu pihak saja.

Hal-hal yang membuatku tidak siap:
1. Aku menyalahkan diri sendiri atas kegagalan hubungan di masa lalu. Aku selalu merasa aku yg membuat hubungan ini gagal karena aku bertindak semauku dan tidak berusaha memahami mereka.
2. Aku rendah diri. Kegagalan dan keputusan-keputusan yang salah membuatku ragu, apakah ada pria yang luar biasa untukku. "Tuhan masih ada stock tidak ya buatku?" Kalaupun ada, aku merasa tidak layak menerima mereka.
3. Aku tidak berani mencintai. Aku mengerti arti ditolak dan disakiti sampai aku merasa menyukai seseorang adalah hal yg paling mengerikan. Dan aku merasa aku menyukai pria yang selalu bukan untukku. Aku ragu dengan perasaan ketertarikanku. Aku bahkan pernah mencabut benih-benih ketertarikan dalam hidupku.
4. Karakter dan kemampuanku. Aku sensitif dan egois. Banyak hal-hal kecil yg benar saja tidak sanggup kulakukan.

Semua itulah yang kupikirkan dan dibukakan oleh Tuhan beberapa bulan yang lalu. 2 bulan, 6 bulan atau 36 bulan lalu.

Kalau kamu ada yang menanyakan apakah aku sudah siap sekarang ini?
Aku tidak yakin, yang pasti aku melakukan sesuatu. Aku mempersiapkan diri untuk sebuah pernikahan.

"Persiapannya apa?", tanyamu.
Yang paling pertama: percaya kalau kasih Tuhan adalah segalanya dalam hidupku, berpegang pada janjiNya dan bersandar pada tanganNya dalam segala sesuatu.
Karena Tuhan adalah penciptaku. Dia tahu untuk apa aku diciptakan, karakter, kekuatan dan kelemahanku seperti apa. Dia tahu bagaimana meracik hidupku, untuk mencapai tujuanNya dalam hidupku, termasuk supaya sepadan dengan pasanganku. Ada sisi kerasku yang perlu dikikis dan sisi lembutku yang perlu ditingkatkan.

Yang kedua adalah membuat target, yaitu melakukan visi Tuhan, belajar sebanyak-banyaknya, menggali potensiku dan bersabar dalam proses pembentukan karakterku.
Aku tidak percaya dengan berdiam diri selama masa penantian yang aku sendiri tidak tahu berapa lama.

Bagaimana pendapatmu?

14th February 2011 - Happy Valentine Day.

Selasa, 28 Desember 2010

Bintang-Bintang

Kerajaan Langit sedang mengadakan perayaan harian. Sang Bulan memainkan harpanya dan para bintang menari dengan indah dalam perayaan itu. Ratu Senja dengan gaun jingganya dengan senang hati menyerahkan takhtanya ke Raja Malam berjubah hitam. Semuanya begitu bahagia.

Jauh dari hiruk pikuk kerjaan Langit, ada seorang wanita sedang berbaring di tempat tidurnya, di Bumi. Dia baru saja selesai membaca buku karya John Bevere dan merenungkan isinya. Dia tidak berbicara, tetapi otaknya berpikir dengan keras. Isi buku itu telah menemplak dirinya.
'Banyak yang harus kuperbaiki' keluhnya.
Raja segala raja banyak berbicara kepadanya lewat buku itu. Dan di hari itu juga Sang Raja memberitahukan area-area lain yang dia harus hadapi yang bersumber dari ketakutan.
'Aku tidak yakin aku sanggup.'
Roh-ku memampukanmu, jawabNya singkat dan jelas pada keragu-raguan wanita tersebut.

'Menghormati orang lain? Duh Raja, aku terbiasa berbicara seenak jidat kalau sama orang yang menyebalkan.'
Lakukan untukKu, berikanlah yang terbaik buat orang yang paling menyebalkan, jawabNya lemah lembut.
'Raja, Engkau tentu tahu aku kadang karena takut, tidak berani melakukan hal yang benar. Buktinya, aku tersenyum ke bosnya saja tidak berani. Rasanya menakutkan.'
Aku tidak memberikan roh ketakutan, tetapi Roh yang berani dan disiplin, Raja meneguhkan kembali siapa wanita dan Roh yang berada di dalam tersebut.
Lagipula, bukankah ketika kamu takut, musuhKu dipermuliakan? Kamu lebih suka musuhKu dipermuliakan dibanding aku?, tanyaNya.
Air mata berlinang di kedua bola mata wanita tersebut. Dia tidak berani memandang ke arah Sang Raja.

Sang Raja mengelus kepala wanita itu. Dia sayang sekali padanya, lebih dari nyawaNya sendiri.
Ada lagi yang kamu pikirkan? TanyaNya.
'Raja, aku aneh. Aku merasa tidak nyaman ketika orang lain melayani atau memberiku sesuatu. Rasanya aku tidak bisa mengembalikan kepada mereka.'
Apakah kamu berharap orang lain mengembalikan kepadamu apa yang kamu berikan?
Wanita itu menggeleng, 'aku tidak pernah berpikir seperti itu.'
Saling mengasihi dan melayani adalah karakter hamba-hambaKu. Aku yang mengajarkan kamu dan mereka demikian. Kamu harus belajar menerima segalanya secara cuma-cuma, jawabnya. Bersyukurlah akan hal itu.

Wanita memejamkan mata. Di dalam hatinya, masih banyak keraguan. Bisakah dia menghancurkan benteng-benteng di pemikirannya? Terlalu banyak yang harus diperbaiki dan disingkirkan.
Tataplah bintang-bintang di langit, kata Sang Raja.
Wanita itu tersenyum. Dia sedang di dalam ruangan, yang jendelanya bahkan tidak menghadap ke langit.
'Kamu bercanda, Raja,' sahut wanita tersebut. 'Aku di lantai 1, ada banyak langit-langit dan langit di sini itu kotor. Mana mungkin bisa lihat bintang-bintang.'
Di sinilah letak permasalahanmu, kamu terlalu banyak memikirkan penghalang-penghalang, dibandingkan bintang-bintang. Kamu terlalu fokus ke ketidakmampuanmu dan bukan janji-janjiKu. Yang membatasi dirimu adalah dirimu sendiri.

Wanita itu terdiam. Keraguan-raguan masih ada di pikirannya. TeguranNya membuka pemikirannya, hanya  ... Wanita itu menepis kata 'hanya' di pikirannya. Sudah terlalu sering kata itu mengukir dirinya sendiri di pikiran wanita itu.
"Raja, aku percaya padaMu. Maafkan aku yang tidak percaya padaMu. Ajarkan aku untuk percaya, apa yang Engkau ingin aku lakukan, Engkau memampukan aku."
Kamu sanggup melakukan segala perkara, dalam Aku yang menguatkan kamu.

Sabtu, 20 November 2010

Hati Yang Melayani

Tuhan memberikan 2 telinga, supaya kita lebih sering mendengarkan dan menangkap isi hati orang lewat perkataan.

Tuhan memberikan 2 mata, supaya kita melihat ekspresi wajah dan tubuh orang secara menyeluruh ketika menyatakan isi hatinya.

Tuhan memberikan 2 lubang hidung, supaya kita tahu aroma apakah yang ada pada orang tersebut. Kalau wangi, kita bisa memuji. Kalau bau obat-obatan, kita bisa tanyakan apakah dia lagi sakit?

Tuhan memberikan 2 tangan, supaya kita bisa menghibur orang tersebut dengan genggaman kita.

Tuhan memberikan 2 kaki, supaya kita bisa menyamakan kecepatan kita dengan kecepatan orang tersebut. Jadi kita bisa berjalan bersama-sama mencapai tujuan.

Tapi Tuhan hanya memberikan 1 mulut, jadi jagalah perkataanmu. Bukan untuk menghakimi, mengkritik dan berbohong. Tetapi perkatakan yang benar, menguatkan dan menghibur dengan senyuman.

Kamis, 07 Oktober 2010

UntukMu (1)

Tuhan menciptakan langit dan bumi dengan indahnya, begitu pula Engkau menciptakan manusia. Tujuan indah ada dalam pikiranMu ketika Engkau menciptakanku. "Baik sekali." Itulah yang Engkau ucapkan ketika menciptakanku.

Tuhan, aku mengaku Engkau adalah kekuatan bagiku. Engkau adalah pembelaku, penjagaku, dan perisaiku. Engkau adalah harapanku yang sanggup memutar segala keadaan dalam hidupku. Aku bersyukur karena Engkau ada di hidupku.

Tuhan, satu hal yang kupinta, janganlah Engkau menjauh dari aku. Aku membutuhkan Engkau di dalam perjalanku. Aku tidak mampu berjalan sendirian. Mereka tidak kenal lelah Tuhan. Mereka bahkan tidak mengizinkan aku berisitirahat dengan tenang.

Aku bersyukur, tanganMu menaungiku. Aku bersyukur, karena Engkau setia dan Engkau tidak meninggalkanku.
Aku bersyukur, aku bisa bergantung pada Engkau yang perkasa, yang sanggup menjagaku dari musuh-musuhku.
Aku bersyukur, Engkau menghembuskan damai sejahteramu di saat aku gelisah dan letih.

Tuhan, Engkau memang luar biasa!

Terima kasih ya Tuhan untuk nafas yang Engkau hembuskan!
Terima kasih ya Tuhan untuk setiap hari yang penuh berkat!

My Prince Charming!

1 John 4: 19   We love Him because He first loved us

'Aku cinta kamu', adalah kalimat yang sangat populer. Kita bisa melihatnya di film romantis, di pernak-pernik, di novel, dsb. Kalimat yang ditunggu baik yang masih single maupun berpasangan. Ada yang hanya diam menanti, ada juga yang mengejar seseorang untuk menyatakan kalimat tersebut dan ada juga yang mengejar seseorang untuk dinyatakan kalimat indah tersebut. Kalimat yang menunjukkan bahwa ada orang yang tetap mengasihi kita apapun yang terjadi.

Aku dibesarkan dalam buaian dongeng, setiap princess akan menemukan seorang prince charming untuk dirinya. Seiring dengan pertambahan usia, aku mulai mempunyai jenis bacaan lain seperti komik, majalah dan novel, yang malah memperbesar keinginanku untuk menemukan Prince Charmingku. Beberapa kali aku jatuh cinta, sayangnya hasilnya tidaklah seindah yang aku bayangkan. Karena saat itu yang kupikirkan adalah Aku, Mauku dan Untukku. Di sisi lain, pasanganku bukanlah orang yang bisa memenuhi semua kebutuhanku. Aku kecewa dan putus asa. Sepertinya Prince Charming hanya ada dalam dongeng dan kisah romantis yang kudengar. Di saat itulah, aku bertemu dengan Tuhan.

Pertama kali aku bertemu Dia, aku jatuh cinta. Hatiku menggebu-gebu karena aku merasakan kehangatan dan kasihNya yang melimpah. Aku melihat Dia mendampaki setiap aspek kehidupanku, aku menjadi diri sendiri. Dia membisikkan kata-kata cinta untukku. Dia membuka hal-hal menyakitkan yang kusimpan rapat-rapat dalam hatiku dan menyembuhkanku. Dia membebaskanku dari pikiran-pikiran salah tentang siapa aku. Tanpa ragu-ragu, Dia menegurku aku karena Dia mengasihiku. Dia memberikan aku peringatan akan ada hal-hal yang bahaya atas pilihanku. memberikan aku kesempatan untuk terbang tinggi dan mengembangkan seluruh potensiku. Aku bersyukur untuk keluarga cell yang Dia tempatkan di sekelilingku untuk menjagaku dan membentukku.

Aku berharap hubunganku akan selalu menggebu-gebu. Kenyataannya tidaklah demikian. Beberapa kali aku kecewa padaNya, aku memberontak dariNya, dan aku ingin mundur dari hubunganku padaNya karena aku tidak mengenal Dia, aku egois dan juga aku pernah merasa tidak layak untuk mendapatkan kasih Nya. Tetapi Dia selalu mengejarku, Dia menarikku kembali ke sisiNya lewat hadiratNya dan kata-kataNya (FirmanNya) yang menggema di hatiku. Aku merasa ada yang kurang dalam hidupku kalau tidak ada Dia. Aku tidak pernah mengalami hubungan seindah ini kecuali bersama Dia.

Jujur, Aku tidak sempurna. Semua orang yang mengenalku, tahu dimana kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahanku. Tetapi, Tuhan memilih untuk mencintaiku. Dia mati di kayu salib demi aku 2000 tahun yang lalu di Kalvari. Aku ada di hatiNya. Dia mengetuk pintu hatiku, dan aku mengundangnya masuk. Aku tidak pernah menyesal :)

Senin, 05 Juli 2010

Sometimes We Don't Understand

Setiap keadaan yang aku alami, aku sering sekali tidak mengerti kenapa Tuhan mengizinkan hal itu terjadi. Yang kupegang hanya satu, "Tuhan mencintaiku, dan Dia tidak akan sekali-sekali meninggalkan aku."

Selasa, 15 Juni 2010

Sebuah Perubahan

Kemampuan untuk berubah setara dengan kemampuan untuk "tidak sungguh-sungguh mau" atau "tidak mau" berubah. Kemampuan itu memiliki sumber yang sama: determinasi.

Aku tidak terlalu ingat, aku mendapatkan pemikiran ini dari mana. Mungkin di salah satu khotbah,  seminar, buku yang pernah kubaca, atau sebuah kejadian di masa lalu. Aku tidak terlalu ingat. Tetapi, kalimat ini melompat keluar dari hatiku, ketika aku merenungkan perubahan.

Visi dan Harapan. Visi dan harapan membuat orang menginginkan dan mempercayai perubahan. Perubahan pendapatan,  perubahan pekerjaan, perubahan gaya hidup, perubahan sikap, dan lain-lain. Dan ya, aku berharap akan perubahan pada diriku sendiri. Apakah untuk diriku sendiri? atau untuk orang lain? Aku menjawab keduanya. Aku tidak membenci diriku sendiri. Aku hanya ingin menjadi pribadi yang lebih kuat, disiplin, tegas, integritas dan penuh kasih. Lewat perubahanku, aku yakin ada orang-orang yang akan menikmati perubahan itu. Salah satunya, keturunan-keturunanku.

Perjalanan. Perubahan hanya terbentuk, ketika kita mau melewati sebuah perjalanan. Jika aku melihat ke masa lalu, aku sendiri tidak tahu kapan titik balikku, yah, selain keputusan untuk mengenal Tuhan. Tiba-tiba pada suatu hari, aku baru menyadari, ternyata aku tidaklah sama seperti dulu lagi. Banyak kejadian-kejadian yang kulalui, banyak pilihan-pilihan yang harus kulakukan; semuanya itu membuatku berubah.

Determinasi. Aku ingin melihat perubahan. Aku ingin melihat diriku menjadi seperti yang Tuhan mau. Pikiran dan hatiku beradu, aku harus berdeterminasi untuk mau berubah. Aku sering merenungkan, "apakah aku mau seperti ini terus? Apakah aku mau mundur dari perjalananku? Apakah aku ingin kembali seperti dulu?." Pertanyaan-pertanyaan itu, tidak selalu kujawab sehabis meneguk air. Berhari-hari, berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan, pertanyaan itu menanti keputusanku.

Tuhanku, Yesus. Sebuah tangan yang memegang tangan kananku. Penyelamatku. Batu karangku yang teguh. Sumber kekuatanku. Kedamaianku. Tempat aku bersandar dan beristirahat saat beban bertambah berat. Bapaku, yang menegur dan mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang. Sahabat yang setia berjalan bersamaku. Semua perubahan ini bisa terjadi karena Dia.

Saat ini, aku duduk di belakang meja komputer. Sekali lagi aku merenungkan, "Apakah aku mau aborsi visi dan harapanku dengan kemalasanku?" Sebuah bisikan penuh kasih, "Aku besertamu. Tidak ada perubahan yang tidak mungkin, saat kamu sungguh-sungguh ingin berubah dan bersandar padaKu."


Jakarta, 15 June 2010.
11 hari menjelang ulang tahunku.